Sejarah Lada Putih Bangka King of Spices Si Raja Rempah Rempah

Sejarah Lada Putih Bangka King of Spices Si Raja Rempah Rempah

Lada Bangka Belitung dikenal sebagai komoditas perdagangan dunia, sangat terkenal dengan kualitas lada yang pedas dan aromatic. Dahulu kala, Lada Bangka memenuhi 80% kebutuhan lada dunia dan terus menurun sampai dengan sekarang. Besarnya potensi dan permintaan lada dunia, tentu hal tersebut menjadi peluang dan tantangan bagi petani lada dan pemerintah.

Adanya Lada Putih Bangka berasal dari sejarah penambangan timah di era Kolonial Belanda. Pada th. 1880– 1930, Belanda menghadirkan pekerja dari Negeri Tiongkok melalui Penang dan Singapore untuk dipekerjakan di pertambangan timah.

Namun, sesudah beberapa dasawarsa berjalan mengalami pergantian system penambangan timah dari manual ke mekanik. Pergantian system ini menimbulkan banyak dari sebagian buruh kasar Tionghoa kehilangan profesinya.

Menanggulangi hal ini, beberapa orang Tionghoa yang mula mulanya bekerja sebagai pekerja kemudian mengambil keputusan untuk beralih ke bidang pertanian. Awal mulanya budidaya lada putih dikembangkan di kota Muntok, bagian barat Pulau Bangka yang kemudian dikenal dengan nama Muntok White Pepper.

Johannes Elias Teijsmann seorang ahli Botani dari Belanda yang sebelumnya memimpin pengembangan tanaman lada di Bangka guna mendukung biaya operasional penambangan Timah saat itu.

Muntok White Pepper merupakan trade mark yang disematkan oleh para pengimpor serta konsumen ataupun buyer dari luar negri pada Lada Putih asal Pulau Bangka yang sudah jadi komoditas dunia selama kurun waktu yang sangat lama.

Lada Bangka disebut juga Merica/Sahang, memiliki julukan Latin Piper Albi Linn merupakan suatu tumbuhan yang kaya akan kandungan kimia, seperti minyak lada, minyak lemak, serta pati. Lada bersifat sedikit pahit, pedas, hangat, serta antipiretik. Tumbuhan ini sudah mulai ditemukan serta dikenal semenjak puluhan abad yang lalu. Pada umumnya banyak orang cuma memahami lada putih serta lada hitam yang mana sering digunakan sebagai bahan dapur.

Sejarah Lada Putih Bangka King of Spices Si Raja Rempah Rempah

Lada, dan juga timah putih, ialah tanaman yang nilainya amat penting untuk Kerajaan Sriwijaya, alhasil mengundang Bangsa Eropa datang menjajah nusantara, Dalam suatu novel bertajuk“ Mengungkap Asal usul Timah Bangka Belitung”( Erwiza Erman, 2009), dituturkan kalau Baginda Mahmud Badaruddin melafalkan“ Aku juga bertarung melawan VOC, namun perang saya berbeda: Saya menggempur VOC dengan lada serta timah, dan VOC membalas saya dengan koin- koin spanyol yang bernilai”.

Kebun Lada Tempo Dulu

Tahun 1920- an, perkebunan lada di Bangka serta Belitung meraih era keemasannya. Tahun 1926, misalnya, jumlah tumbuhan lada mencapai 7 juta pohon. Satu tahun setelah itu meningkat jadi 9 juta pohon serta berkembang nyaris 3 kali lipat menjadi 20 juta pohon pada 1931.

Walhasil, ekspor lada dari Banga Belitung pada tahun 1931 pun tercatat lebih dari 12. 000 ton, sedangkan ekspor lada Hindia Belanda waktu itu 14. 000 ton.

Baca Juga : Fakta Unik Tentang Bangka Belitung yang Banyak Orang Belum Tahu

Tahun 1980- an, lada Bangka kembali mencapai era kejayaannya dikala harga lada Rp 12. 000 per kilogram. Ekspor lada dari Banga Belitung tahun 1985 juga mencapai 11. 000 ton, senilai 36 juta dollar AS ataupun mendekati masa keemasannya tahun 1930- an. Banyak penduduk Bangka tiba- tiba kaya dari usaha lada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares This